Ketika Yang Tidak Lulus Tersenyum Dari Pada Yang Lulus

Tidak Lulus UNTiga tahun fase penempaan diri di kawah candradimuka Sekolah Menengah Atas (SMA) Sudah hampir selesai. Ujian Akhir sebagai “babak final” pengujian hasil gemblenganpun sudah dilalui. Tidak mulus-mulus amat memang prosesnya, tapi inilah Indonesia, kalau tidak dipaksakan mulus mungkin tidak akan punya budaya tambahan, meskipun budaya yang negatif.

Hari yang dinantikan-nantikan, yaitu pengumuman hasil ujianpun semakin dekat dan terus mendekat. Was-was, takut, gelisah, optimis, semuanya campur aduk didalam hati, jantung, otak, mata, mulut dan seluruh ruas-ras nadi dalam diri. Malam menjelang pengeumuman, berbagai informasi yang simpang siur ngalor ngidul tidak karuanpun silih hilir mudik ditelinga. Ingin rasanya pergi ketempat yang sepi dan berharap malaikat datang langsung mengabarkan informasi kelulusan seperti yang diharapkan.

Hari yang antara diharapkan dan tidak diharapkanpun akhirnya datang juga. Karena tidak sabar menunggu petugas pos datang ke rumah, akhirnya berebutlah mencari koran harian lokal yang didalamnya termuat pengumuman kelulusan hasil Ujian Nasional. Laris manis deh tuh koran, yang harganya 2.000 perak langsung melejit 5.000, tapi jangankan 5.000, 20.000-pun masih ada yang mau beli demi melihat sebaris namanya di halaman koran tersebut.

Senang bukan main ketika menemukan nomor peserta dan nama sendiri tercetak dihalaman tersebut, seakan-akan perjuangan 3 tahun terbayar tuntas. Perkara ujiannya tidak sehat, ah itu tidak dianggap lagi penting, yang penting lulus, titik !. Semua siswa tumpah ruah kejalanan merayakan kelulusannya, sungguh… sebuah rasa syukur yang tidak pada tempatnya. Namun, itu kadang sudah menjadi sesuatu yang maklum meskipun keliru.

Siang menjelang sore, mulai beredar kabar ada beberapa teman yang dinyatakan tidak lulus. Belum yakin sepenuhnya memang, tapi jelas itu membuat penasaran. Hingga akhirnya kepastianpun didapat setelah teman-teman itu sendiri yang menyampaikannya. Sunguh sobaaaaat…. ini adalah pukulan yang telak buat saya meskipun saya lulus, tangisanpun tidak dapat saya bendung, entah itu simpatik… solidaritas… ataupun entah apa namanya, yang jelas ketika saya melihat dua sisi yang berbeda, yaitu keceriaan mereka-mereka yang lulus dan keteguhan mereka-mereka yang tidak lulus, tampak betul kebenaran Tuhan yang melarang kita berlebih-lebihan.

Tidak mungkin rasanya saya harus larut bergembira, sementara disaat yang bersamaan teman-teman saya harus menghadapi

TIDAK LULUSIlustrasi (banjarmasin.tribunnews.com)

beban moral yang tidak ringan. Bicara soal rasa syukurpun biarlah Tuhan dan saya saja yang tahu. Rasa down dan menahan rasa sesak didalam dadapun nampak tak dapat disembunyikan oleh teman-teman saya. Saya yakin betul, antara percaya dan tidak percaya terus membayangi pikiran mereka, karena demikian juga yang saya rasakan. Beberapa kali saya coba periksa kembali daftar ribuan nama yang tercetak di koran, tapi memang namanya tidak ada.

Singkat cerita, beberapa waktu kemudian susasana sedikit mencair dan lebih tenang. Hal ini tidak terlepas dari sikap teman-teman saya tersebut yang sepertinya sudah mulai bisa menerima kenyataan dan memahami keadaan.

Sambil menunggu ujian paket C, dengan tegarnya salah satu teman saya mau mengulang kembali masuk kelas. Bisa kita bayangkan, sungguh itu merupakan ketegaran yang luar biasa, saya sendiri tidak yakin mampu menghadapinya. Begitu ujian paket C tiba, iapun mengikutinya dan hasil akhirnya dia dinyatakan lulus. Diapun merubah pikiran untuk tidak meneruskan mengulang proses pendidikannya. Karena ijazah sudah ditangan, ia memutuskan untuk menata rencana baru, yaitu kursus bahasa Inggris.

Sampai disini, saya tidak begitu tahu kegiatan dan hari-hari teman saya tersebut. Beberapa bulan kemudian tersiar kabar kalau dia sudah di Jerman. Walapun kabarnya belum pasti, yang pasti saya sudah sangat gembira dan bahagia. 3 Bulan kemudian dari tersiarnya kabar tersebut, dia titip salam buat saya ke guru Geografi saya waktu SMA (hayo siapa hayooo… ??? :-) ) karena seperkiraan dia saya masih tinggal di sekolah dan masih jualan di kantin, dia juga titip nomor handphone.

Guru sayapun bercerita, kalau dia (teman saya tersebut) sekarang dapat beasiswa di Jerman dari kedutaan Jerman. Awalnya  dia dapat pengumuman beasiswa tersebut dari tempat ia kursus, iapun memberanikan diri untuk mencobanya, dan Tuhan memang maha adil, selalu ada hikmah dibalik setiap rencananya. Andaikan ia lulus, mungkin ia akan masuk ke jalur pendidikan lain yang belum tentu memberikan peluang untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Kini, saya hanya bisa berharap dimanapun teman saya tersebut berada, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Ketika saya flashback lagi ke belakang, dia yang dulu hampir putus asa kini bisa jauh lebih tersenyum dari mereka-mereka yang dulu tertawa terbahak-bahak disekitarnya. Terimakasih kawan atas atas ketegaranmu yang telah memberikan pelajaran hidup dari yang Tuhan titipkan Pada Ku

Semoga ini dapat memberikan hikmah buat kita semuanya, khususnya buat adik-adikku yang hari ini menanti pengumuman kelulusan Ujian Nasional

Sumber : http://rosid.net/ketika-yang-tidak-lulus-lebih-tersenyum-dari-yang-lulus#comment-225 dengan sedikit pengubahan

Perihal J@z_3By AmP3 Off
Saya Seorang Pelajar di SMAN 1 Maumere, untuk lengkapnya silahkan menjadi teman saya di FB (PUTU BALI MOF) Sekian.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: