ASKEP HERNIA..

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. KONSEP MEDIS
2.1.1 Pengertian.
• Hernia : adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan dinding perut,baik secara kongenital atau didapat yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.
(Arif mansjoer,2000,hlm 313)
• Hernia ireponibel : adalah bila terjadi pelengkatan antara isi hernia dan dinidng kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat di masukan kembali.
( Arif mansjoer,2000 hlm 313 )

2.1.2. Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :
1. Mulut (oris)
2. Faking (Tekak)
3. Esofagus (Kerongkongan)
4. Ventrikulus (Lambung).
5. Intestinum (Usus halus).
a. Duedenum (usus 12 jari).
b. Yeyenum.
c. Ileum.
6. Intestinum Mayor ( Usus besar).
a. Seikum.
b. Kolon asendens.
c. Kolon transversum.
d. Kolon desendens.
e. Kolon sigmoid.
7. Rektum.
8. Anus.
1. Usus Halus terdiri dari tiga bagian yaitu :
1) Duodenum (Usus 12 jari).
Panjang  25cm. Berbentuk seperti kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pancreas. Pada bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir membukit disebut Papila vatori yang bermuara pada saluran empedu (Duktus kolektikus) dan saluran pankreas (duktus pankreatiskus).
Empedu dibuat di hati untuk dikeluarkan di duodenum melalui duktus koletikus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase. Pankreas juga menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi mencerna protein menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida.

2) Yeyenum dan Ileum.
Panjang  6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang  23 meter dan ileum dengan panjang  4 – 5 meter. Kelenjar-kelenjar yang ada dalam dinding usus menghasilkan getah usus yang mengandung beberapa enzim :
(1) Enzim maltase, mencernakan maltosa menjadi monosakarida.
(2) Enzim laktase, mencernakan laktase menjadi galaktosa dan glukosa.
(3) Enzim Sukrase, mencernakan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
(4) Enzim Peptidase, mencernakan polipeptida menjadi asam amino.
Fungsi Usus Halus
(1) Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran limfe.
(2) Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
(3) Menyerap karbohidrat dalam bentuk monosakarida.
2. Usus Besar (Intestinium Mayor).
Panjang  1 ½ m, lebar 5 – 6 m.
Lapisan-lapisan dari dalam keluar :
1) Selaput lendir.
2) Lapisan otot melingkar.
3) Lapisan otot memanjang.
4) Jaringan ikat
Fungsi Usus Besar.
1) Menyerap air dan makanan.
2) Tempat tinggal bakteri coli.
3) Tempat feces
1. Seikum.
Di bawah seikum apendiks vermitormis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing. Panjang 6 cm.
2. Colon asendens.
Panjang 13 cm. terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas kiri ileum bawah hati.
3. Colon transversum.
Panjang  38 cm, membujur dari kolons asendens sampai ke colon desendens berada di bawah abdomen.
4. Colon Desendens.
Panjang  25cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bagian bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan colon sigmoid
5. Colon Sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring dalam rongga palvis sebelah kiri bentuknya menyerupai hurup S.
6. Rektum
Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus.

2.1.3. Klasifikasi.
a. Berdasarkan terjadinya
1. Hernia bawaan/hernia konginital
2. Hernia dapatan.
b. Berdasarkan letak :
1) Hernia inguinal : yaitu hernia yang terdapat atau terjadi pada daerah inguinal.
2) Hernia digfragma : menonjolnya usus ke diagfragma atau naiknya usus ke diagfragma.
3) Hernia umbilikal : penonjolan isi perut ke daerah umbilikal.
4) Hernia femoral : turunnya usus ke daerah femoral.
c. Berdasarkan sifat Hernia.
1) Hernia reponibel : Bila isi hernia dapat keluar masuk atau bisa dimasukan kembali ke tempat yang sebenarnya.
2) Hernia Ireponibel : Bila kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke tempat asal.
d. Berdasarkan tingkatannya
1) Hernia inkarserata : Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia
2) Hernia strangulate : Hernia pada gangguan vaskularisasi.
e. Berdasarkan dapat /tidak dapat dilihat.:
1) Hernia interna : bila hernia terdapat atau terjadi di dalam rongga badan (tidak dapat dilihat).
2) Hernia eksterna : hernia yang menonjol keluar sehingga dapat dilihat dari luar.
f. Berdasarkan isi
1) Hernia adiposa : bila isi hernia adalah lemak.
2) Hernia litere : yaitu hernia inkarserata atau strangulata yang sebagian dinding ususnya saja terjepit dalam cincin hernia.
3) Hernia Sliding yaitu hernia yang isi hernianya menjadi sebagian dari kantong hernia.
(Ilmu Bedah : R Sjamsuhidajat dan Wim de Jong)

2.1.4. Etiologi
a. Mengedan terlalu kuat.
b. Mengangkat barang berat.
c. Cacat bawaan.

2.1.5. Patofisologi
1) Adanya tekanan dalam rongga perut. Misalnya sering mengangkat beban berat atau mengedan terlalu kuat.
2) Hernia terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah, kemungkinan cacat bawaan misalnya hernia umbilikal sering terjadi pada usia lanjut akibat jaringan penyangga semakin melemah.

2.1.6. Manisfestasi Klinik.
Benjolan dilipatan paha yang timbul pada waktu mengejan, mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat atau berbaring, kadang-kadang nyeri di epigastrium.

2.1.7. Therapy/Penatalaksanaan.
1. Penatalaksanaan Medis
a. Tindakan bedah merupakan satu-satunya pengobatan hernia yang rasional (Herniactomi).
b. Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan dilakukan treposisi dan penyangga untuk mempertahankan isi hernia.
2. Penatalaksanaan Keperawatan.
a. Meninggikan kaki tempat tidur dengan posisi kaki pasien lebih tinggi dari kepala untuk mengembalikan isi hernia ke rongga asalnya.
b. Memberikan posisi yang nyaman.
c. Kolaborasi : memberikan obat sesuai indikasi dan mengusulkan untuk dilakukan pembedahan.
d. Penyuluhan.
e. Menganjurkan pasien untuk tidak mengangkat beban berat.
f. Pengedanan yang dipaksakan tidak diperbolehkan.
g. Segera melapor atau kontrol ke tempat pelayanan Kesehatan bila ada gejala hernia.
3. Diagnosa Banding.
Hematoma, tumor jaringan lunak, limfadenitis, lipoma dan abses.

2.1.8. Komplikasi.
Komplikasi tergantung pada keadaan dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat bertahan dalam kantong hernia kalau isi hernia terlalu besar atau terdiri dari ometum, organ ekstra peritonka atau hernia gesek dan hernia akreta. Dapat pula terjadi bila isi hernia tercekik oleh cincin hernia.
Hal tersebut dapat menyebabkan gangguan perfusi jaringan, akan terjadi bendungan vena, sehingga oedema organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia.

(Mengendan terlalu kuat, mengangkat beban berat, cacat bawaan)

Peningkatan tekanan abdomen

Dinding atau jaringan penyangga lemah

Lemak properitoneal terdorong ke dalam suatu rongga

Penonjolan abdomen/Usus ke suatu rongga
(H E R N I A)

Isi hernia terjepit oleh cincin hernia (inkarserata)

Penekanan saraf nyeri

Nyeri

Gangguan Rasa
Nyaman Nyeri Hernia diafrgama

Lambung & esophagus terjepit oleh diafrgama

Refluks balik

Mual – muntah

Gangguan Kebutuhan Nutrisi

Takut bergerak atau pembatasan aktivitas

ADL terganggu

Intoleransi Aktivitas

2.2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.2.1. Pengkajian
1. Pengertian Asuhan Keprawatan
Adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keprawatan termasuk lingkungan untuk menopang asuhan pemberian tersebut.
2. Pengertian Perawat
Perawat adalah :
 Seorang yang berperan dalam merawat dan memelihara, mengatur dan melindungi seseorang karena sakit.
 Pelayanan profesional yang merupakan pelayanan integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keprawatan, berbentuk pelayanan biopsikososial, spiritual, komprehensif yang ditunjukan kepada klompok masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluru proses kehidupan manusia.
3. Pengkajian Data Dasar
a. Aktivitas/Istrahat
Gejala :
 Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama.
 Membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur.
 Penurunan rentang gerak dari ekstermitas pada salah satu bagian tubuh.
Tanda : Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan.
b. Eliminasi
Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi.
Adanya inkontinensia/retensi urin.
c. Integritas Ego
Gelala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah pekerjaan, financial keluarga.
Tanda : Tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat.
d. Neurisensorik
Gejala : Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tanga/kaki.
Tanda : Penurunan reflex tendon dalam,kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan/spasme otot paravertebralis.Penurunan presepsi nyeri (sensori).
e. Nyeri/Kenyamanan
Gejala :
 Nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkak badan, mengangkat,defekasi, mengangkat kaki atau fleksi pada leher, nyeri yang tidak ada hentinya atau adanya episode nyeri yang lebih berat secara intermiten, nyeri yang menjalar kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan, kaku pada leher (servikal).
 Terdengar adanya suara ”krek” saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa ”punggung patah”.
 Keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk kedepan.
Tanda :
 Sikap : dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena.
 Perubahan cara berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena.
 Nyeri pada palpasi.
f. Keamanan
Gejala : Adanya riwayat masalah ”punggung” yang baru saja terjadi.
g. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Gaya hidup : monoton atau hiperaktif.
Rencana Pemulangan : mungkin memerlukan bantuan dalam transportasi, perawatan diri dan penyelesaian tugas-tugas rumah.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada jaringan hernia.
2. Kecemasan meningkat berhubungan dengan tindakan pembedahan.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d in take in adekuat
4. Ketidakmampuan mengurus diri berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan Konsep diri berhubungan dengan konsep penyakit
6. Kurang pengetahuan keluarga mengenai kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang penanganan atau megingat salah interpretasi.
7. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan puasa.

2.2.3. Perencanaan atau Tujuan.
1. Nyeri akan berkurang secara berangsur
2. Kecemasan pasien akan berkurang selama proses perawatan.
3. Peningkatan napsu makan
4. Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang mungkin
5. Mampu mengungkapkan kenyataan secara realitis dan penerimaan terhadap tubuhnya
6. Berikan informasi pada keluarga tentang penyakit dan tindakan therapeutik.
7. Pertahankan pencatatn yang ketat terhadap masukan dan pengeluaraan serta timbang berat badan.
DX 1 : Nyeri
Intervensi.
1. Observasi nyeri terhadap karakteristik, lokasi dan intensitasnya dengan mengunakan skala nyeri 0 – 10.
R/ : Untuk mendeteksi kondisi nyeri pasien.
2. Kaji TTV.
R/ : Mengetahui perkembangan keadaan pasien.
3. Rubah posisi sesuai indikasi seperti tidur terlentang atau posisi trendemlemberg.
R/ : Memberikan rasa nyaman.
4. Atur pemberian analgesik sesuai indikasi.
R/ : Mengurangi nyeri dan ketidaknyaman

Dx 2 : Kecemasan
Intervensi :
1. Kaji penyebab dan tingkat kecemasan
R/ : Sebagai data dalam melakukan tindakan selanjutnya.
2. Observasi tanda-tanda vital
R/ : Untuk mengindentifikasi kecemasan pasien.
3. Beri penjelasan dengan sering dan informasi orang tua atau anak tentang prosedur keperawatan.
R/ : Pengetahuan diharapkan menurunkan ketakutan

Dx : 3 Nutrisi
1. Identifikasi faktor yang menimbulkan luar atau muntah
R/ : Pilihan intervensi bergantung pada penyebab masalah
2. Berikan makanan porsi kecil dan sering
R/ : Tindakan ini dapat meningkatkan masukan, meskipun napsu makan mungkin lambat untuk kembali
3. Evaluasi status nutrisi umum atau ukur berat badan dasar
R/ : Memberikan informasi sehubungan dengan kebutuhan nutrisi dan keefektifan terapi

Dx : 4 Intoleransi Aktivitas
1. Anjurkan pada klien untuk ikut berperan serta dalam aktivitas sehari-hari dalam keterbatasan individu.
R/.Meningkatkan penyembuhan dan membantu kekuatan dan kesabaran. Partisipasi klien akan meningkatkan kemandirian pasien dan perasaan kontrol terhadap diri.
2. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulansi progresif.
R/.Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
3. Anjurkan pada pasien untuk melakukan tindakan pasif dan aktif
R/.Mencegah terjadinya kekakuan otot
4. Anjurkan klien untuk merubah posisi setiap 2 jam.
R/.Mencegah terjadinya Dekubitus

Dx 5. Konsep Diri
1. Ciptakan atau pertahankan hubungan terapeutik antara pasien dengan perawat
R/ : Meningkatkan kesejahteraan bagi klien
2. Kaji kembali informasi mengenai jalannya penyakit
R/ : Ketika pasien belajar mengenai penyakit dan menjadi sadar bahwa tingkah laku tersebut dapat mempengaruhi secara cukup berarti munculnya atau meredanya penyakit, pasien mungkin merasa lebih terkontrol, meningkatkan rasa harga diri
3. Berikan informasi lisan dan tertulis yang tepat mengenai apa yang sedang terjadi dan diskusikan dengan pasien atau orang terdekat
R/ : Membantu pasien menerima keadaan, menurunkan rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui, memberi rujukan untuk dimasa mendatang.
4. catat munculnya deprsi atau perubahan proses pikir ekspresi (evaluasi dengan skala 1-10)
R/ : Adaptasi jangka panjang terhadap penyakit yang makin lama makin memperlemah dan akibat fatal merupakan penyesuaian emosi yang sulit
5. Kolaborasi denagn ahli terapi
R/ : Mengidentifikasi alat bantu atau peralatan yang dapat meningkatkan tingkat fungsi dan patisipasi.

6 Dx 6 : Resiko tinggi defisit volume cairan.
1) Kaji intake dan aut put per 24 jam.
R/ : Mengetahui status balance cairan.
2) Kaji turgor kulit dan mukosa membran.
R/ : Mendeteksi status hidrasi.
3) Kaji TTV
R/ : Sebagai data dasar untuk mengetahui keadaan pasien.
4) Pertahankan terapi IV sesuai instruksi.
R/ : Mempertahankan status cairan tubuh.
5) Kanjurkan untuk meningkatkan intake cairan peroral atau sesuai kemampuan.
R/ : Mempertahankan status cairan.

7. Dx 7. Kurang Pengetahuan
1) Kaji pengetahuan keluarga dan klien tentang penyebab hernia produser pengobatan.
R/.Meningkatnya pengetahuan ortu
2) Jelaskan pentingnya nutrisi dan cairan dalam tubuh
R/ Mempercepat penyembuhan
3) Menjelaskan tentang penyakit dan pengobatan
R/. Pasien mengerti dan mau bekerjasama
4) Beri motivasi pada pasien
R/. Agar pasien tidak cemas.
5) Beri informasi tentang pengobatan
R/. Pasien bisa mengerti tentang tindakan yang akan dilakukan.

Perihal J@z_3By AmP3 Off
Saya Seorang Pelajar di SMAN 1 Maumere, untuk lengkapnya silahkan menjadi teman saya di FB (PUTU BALI MOF) Sekian.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: